top of page

Ceritanya..

 

Perjalanan kami pun memasuki minggu ketiga. Dalam perjalanan kami kali ini, Benowo menjadi tujuan utama dalam melakukan riset. Kami memilih tempat ini karena daerah ini merupakan penghasil Semanggi. Setelah mendapat kontak pemasok Semanggi dari Mbak Putri”Semanggi Dempo”minggu lalu, kami pun memutuskan untuk melakukan riset di sini. Sekitar jam 7 kami pun berangkat mengunjungi Benowo, daerah ini masih sangat asing bagi kami karena letaknya yang berada di perbatasan antara Surabaya dan Gresik. Jalanan pagi itu masih tergolong sepi, mungkin karena bertepatan pada hari Minggu. Ketika kami memasuki kawasan kecamatan Benowo, terlihat keramaian pasar dan juga hiruk pikuk warga yang sedang beraktivitas pagi. Daerah ini cukup padat penduduk dengan akses jalan yang tidak terlalu besar, bahkan tergolong sempit untuk sebuah jalan dengan 2 arah.

 

Namun kenyataannya..

 

Sedikit sulit bagi kami menemukan tempat pemasok semanggi ini, hingga beberapa saat kemudian kami menemukan sebuah warung pangsit mie ayam yang menjadi clue kami untuk mencari pemasok Semanggi. Kami pun segera bergegas untuk mencari tahu mengenai keberadaan Pak Su’in si pemasok Semanggi tersebut. Setelah kami tanyakan ternyata beliau sudah pergi dari jam 6 tadi untuk menjual Semanggi di kota dan akan kembali pada sore hari nanti. Kami pun memutar otak agar perjalanan ke Benowo ini tidak sia-sia, kemudian terpikirlah ide untuk mencari-cari pedagang Semanggi di daerah itu.

 

Ketemu Si 'Mbok'..

 

Pedagang Semanggi tersebut ternyata setiap hari berjualan di depan Ruko Bukit Palma, terutama pada hari Minggu banyak sekali pedagang yang memilih untuk berjualan di sini. Dari jauh tampak berjajar ‘si mbok’ penjual Semanggi, kalo dihitung mungkin sekitar 6 atau 7 orang. Tidak hanya Semanggi, penjual gado-gado pun juga memilih tempat ini untuk menjajakan makanannya. Para penikmat kuliner pagi pun cukup banyak pagi itu, kebanyakan mereka mengajak serta keluarganya.

 

Kami pun membeli semanggi untuk mengganjal perut di salah satu simbok yang ada di ujung. Simbok Semanggi tersebut bernama Ibu Arma. Fisiknya sudah renta dan kulit di tubuhnya sudah dipenuhi keriput, tetapi semangatnya dalam berjualan tidak padam. Sudah sekitar 3 tahun menjual Semanggi untuk menafkahi keluarganya, karena pendapatannya menjadi seorang petani tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, maka beliau memutuskan untuk beralih profesi menjadi penjual Semanggi. Sehari-hari, beliau berjualan keliling di daerah Beringin, Ngawen dan juga Semalang, khusus hari Minggu dipilihlah kawasan Ruko Bukit Palma sebagai tempat beliau berjualan.

 

Untuk seporsi semanggi sendiri harganya Rp. 4.500,00 sudah termasuk kerupuk puli. Dari segi harga, Semanggi tersebut sangat terjangkau dan porsinya tergolong banyak meurut ukuran kami. Setiap harinya sekitar 50 porsi ludes di jual, kemudian pada hari Minggu terjual hampir 100 bungkus. Selain berjualan keliling, ibu Arma juga melayani pesanan dan layanan antar.

 

Kisah mereka.. 

 

Setelah berbincang dengan Bu Arma, kami mencoba untuk bertanya kepada Simbok Semanggi yang lainnya. Setelah di telusuri ternyata hampir semua penjualnya masih tergolong baru dalam berjualan Semanggi. Rata-rata mereka berjualan Semanggi baru sekitar 1-3 tahun, sehingga kami sedikit kesulitan untuk mengulik suka dan duka berjualan Semanggi. Sebelumnya mereka berforesi sebagai petani dan kemudian beralih menjadi penjual Semanggi, karena penghasilan yang di dapat tidak cukup dan menjadi petani cukup melelahkan apalagi dengan kondisi fisik mereka yang sudah renta. Selain itu, semanggi yang mereka dapat berasal dari pemasok Semanggi yang ada di Jalan Kendung. Mereka sudah berlangganan, sehingga tidak perlu repot lagi untuk mencari pemasok dan tentunya tidak perlu repot memelihara Semanggi sendiri. Sistem penjualannya sendiri adalah per taker, di mana satu taker diberi harga Rp. 5.000,00.

 

Itulah beberapa kisah yang berhasil kami dapatkan selama melakukan riset ke Jalan Kendung, Benowo-Surabaya. Semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah pengetahuan tentang seluk beluk dunia Semanggi dan juga menjadi inspirasi hidup kita seperti kisah si Mbok Semanggi yang secara fisik sudah renta, tetapi demi menafkahi keluarga beliau tetap bersemangat untuk bekerja.

 

Kisah "Si Mbok"

© 2013 by Bakoel Semanggi

  • Facebook Classic
  • Twitter Classic
  • YouTube Classic
bottom of page